Minggu, 02 September 2012

Anak dan Sekarung Padi


Hari mulai senja ketika kulihat seorang anak dengan langkah kecilnya berjalan tergesa-gesa menyusul kedua orang tuanya yang sudah jauh berjalan didepanya. Tampak wajah hitamnya yang terlihat lelah setelah seharian bekerja ikut membantu kedua orang tuanya mencari nafkah. Kakinya berjalan tanpa alas sepertinya telah terbiasa dengan kerasnya aspal sekeras kehidupanya. Di pundaknya tersandar sekarung gabah hasil kerja kerasnya hari ini. Kedua tangan mungilnya menggenggam kuat ujung karung yang tampak berat dibawanya dan berusaha agar tidak terjatuh. Hanya sebuah topi rajut berwarna hitam putih yang menjadi pelindung kepalanya dari sengatan teriknya matahari sepanjang hari ini. Entah berapa jauh lagi dia harus berjalan untuk sampai di rumahnya dengan beban seberat itu dipundaknya. Bagai perjalanan hidupnya yang penuh beban untuk mencapai tujuan yang dia harapkan. Ingin rasanya kuambil bebanya dan kuantarkan dia sampai di rumahnya. Tapi sepertinya dia tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya dan terus berjalan secepatnya melewati tempat ku berdiri. Bahkan aku hanya sempat mengambil gambarnya sekali saja karena tiba-tiba dia sudah berada jauh membelakangiku. Aku hanya bisa menatap punggungnya beserta sekarung gabah yang dibawanya semakin menjauh dari tempat aku berdiri sambil tertegun.