Hari
mulai senja ketika kulihat seorang anak dengan langkah kecilnya berjalan
tergesa-gesa menyusul kedua orang tuanya yang sudah jauh berjalan didepanya.
Tampak wajah hitamnya yang terlihat lelah setelah seharian bekerja ikut membantu
kedua orang tuanya mencari nafkah. Kakinya berjalan tanpa alas sepertinya telah
terbiasa dengan kerasnya aspal sekeras kehidupanya. Di pundaknya tersandar
sekarung gabah hasil kerja kerasnya hari ini. Kedua tangan mungilnya menggenggam
kuat ujung karung yang tampak berat dibawanya dan berusaha agar tidak terjatuh.
Hanya sebuah topi rajut berwarna hitam putih yang menjadi pelindung kepalanya
dari sengatan teriknya matahari sepanjang hari ini. Entah berapa jauh lagi dia
harus berjalan untuk sampai di rumahnya dengan beban seberat itu dipundaknya.
Bagai perjalanan hidupnya yang penuh beban untuk mencapai tujuan yang dia
harapkan. Ingin rasanya kuambil bebanya dan kuantarkan dia sampai di rumahnya. Tapi
sepertinya dia tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya dan terus berjalan
secepatnya melewati tempat ku berdiri. Bahkan aku hanya sempat mengambil
gambarnya sekali saja karena tiba-tiba dia sudah berada jauh membelakangiku. Aku
hanya bisa menatap punggungnya beserta sekarung gabah yang dibawanya semakin
menjauh dari tempat aku berdiri sambil tertegun.